Rabu, 26 Maret 2014

awal yang baru



Awal Yang Baru

          Sekolah musik Ahmad Dhani adalah sekolah musik terbaik Di Asia Tenggara, hanya orang-orang yang  genius dalam bidang musiklah yang bisa bersekolah disana. Termasuk Grey, siswa yang sederhana. Begitu pula dengan Alice, gadis kaya namun rendah hatinya. Terkecuali Nadine dan Jacob siswa/i genius namun sombong akan kekayaannya.

Disekolah, saat menjelang bel masuk sekolah. Nadine dan Jacob sedang nongkrong dikelas. Tiba-tiba Grey masuk kelas tanpa memberi hormat sehingga membuat mereka marah.
Jacob,         : “ Woy lo, asal main lewat aja. Sini lo!” (sambil menarik kerah Grey)
Nadine,        : “ lo tau salah lo apa? Belagu banget sih lo!”
Grey,           : “Iya, maaf” (sambil menunduk)
Nadine,        : “ Jacob, kasih pelajaran sebagai tanda pertemanan dengan anak cupu ini!”
Jacob,         : “Rasain nih!” (sambil menyiksa Grey dengan kejam)
Alice,           : “Hey kalian berhenti! Nanti aku aduin Bu Stewart loh!” (datang     menghampiri)
Nadine,        : “Jacob, ayo cabut!” (pergi meninggalkan Grey dan Alice)
Jacob,         : “Ayo pergi, daripada berurusan dengannya” (menyusul Nadine)





Tak lama Nadine dan Jacob pergi meninggalkan kelas. Bel masuk berbunyi, pada akhirnya yang tersisa hanya Alice dan Grey. Gurupun masuk dan sangat terkejut.
Bu Stewart,           : “Haa.. my god, oh no. Kemane Nadine dan Jacob?
Alice dan Grey,      : “mereka bolos lagi bu”
Bu Stewart,           :”Aih mak, mangkir gale terus. Nak jadi cabe-cabe ape? Palak terus aku dibuatnye.
                             sudah..sudah. Biar kena Ibu toyor mereka. Alice, Grey mainkan alat musik kau tu. Minggu depan, akan diadakan tes masuk American Musical Collage School”
Alice dan Grey,      :”Ya Bu”

Alice dan Grey pun berlatih memainkan alat musiknya. Saat bel sekolah berdentang. Anak-anak berhamburan keluar, kecuali Grey.
Bu Stewart, :”Hey, Grey. Kemari dulu kau tu”
Grey,           :”Ada apa Bu?”
Bu Stewart, :”Cemmana pulak kau ni? Uang SPP kau tunggak 3 bulan”
Grey,           :”Hah? Baik bu, akan segera saya lunasi (muka kaget)
                   Maaf Bu, kenapa ibu dari tadi ngomong campur campur ya?”
Bu Stewart, :”aaii.. kau tak tau ye. Ibu ni keturunan medan, padang, jamo palembang. Sudah, cepat lagi sana kau bilang bapak kau”





          Sore hari, disaat semua anak-anak pulang sekolah. Tetapi, Nadine yang terkenal anak paling nakal disekolah belum pulang. Ia dihukum untuk memotong rumput depan sekolah. Tetapi, Jacob tidak--setidaknya belum, karena ia berhasil kabur duluan.
Nadine,        :”Sial, kenapa gua jadi beralih profesi jadi tukang kebun gini sih (mendengus kesal) enak banget si Jacob gak kena. Liat aja, habis lo sama gua!. Duh, capek banget, haus!” (melirik ke seorang pria kumal membawa minuman, dan menduganya pedagang asongan)
Ayah Gray,   :”Permisi mbak, bisa saya masuk dan memberikan makanan ini untuk anak saya Grey?”
Nadine,        :”berapaan nih? Saya haus banget”
Ayah Grey,   :”maaf mbak, ini tidak dijual. Ini untuk Gray, kasian dia pasti kelaparan karena berlatih musik sampai sore. Lagipula, saya tidak mampu memberinya uang jajan.”
Nadine,        :”emang gue pikirin. Oh ya, kau akan menjualnya. Karena aku akan membelinya!” (merebut minuman dari tangan Ayah Grey).

          Tiba-tiba terjadi sesuatu tak terduga, Ayah Gray meninggal. Nadine panik. Brey datang dan sangatterkejut.
Grey,           :”Ayah, kenapa? Nadine apa yangkamu lakukan dengan Ayahku!” (marah kepada Nadine)
Nadine,        :”Mana gue tahu. Aku bukan pembunuh” balas Nadine ketus. (sambil menghentakkan tubuh Grey dan pergi)
Grey,           :”Nadine!” (berteriak keras)




          Nadine, jika ia bisa marah dengan hebat, maka ia juga bisa menangis dengan hebat. Ia menyuarakan kesedihan mendalam, tangisannya meledak dalam luapan emosi memilukan, menurun menjadi suara gemetar penuh kesengsaraan dan meledak lagi dalam emosi sedih.
Alice,           :”Nadine, apa yang kamu lakukan malam-malam disin? Kamu tidak pulang kerumah?”
Nadine,        :”Rumah, tempat itu adalah tanah tandus, tak ada tanda-tanda kehidupan, tanpa pergerakan, bagitu sepi dan dingin hingga auranya-pun bahkan bukan kesedihan—sebuah tawa tanpa kegembiraan dan ditandai oleh kemuraman mutlak”
Alice,           :”Ada apa denganmu? Kehidupan berkembang cepat didalam dirimu. Membuatmu lebih dewasa dari yang seharusnya”
Nadine,        :”Aku sudah memiliki pelatihan itu dri masa kecil untuk menuntunku”
Alice,           :”hari-harimu semakin kelabu sehingga kamu semakin nakal melampaui sifatmu”
Nadine,        :”Hidup ini kejam. Menindas yang lemah, menghormati yang kuat”
Alice,           :”Kamu tidak boleh seperti itu, memiliki sifat kejam khas seorang pengecut. Menangis dan meringis saat menghadapi pukulan/ucapan marah seseorang dan membalas dendam pada makhluk-makhluk yang lebih lemah darimu”
Nadine,        :”Kau tidak mengerti apa-apa Alice! Kau tidak merasakan hidup dalam kebencian dan dendam. Tapi aku, aku yang merasakannya.  Hari ini merupakan pengulangan hari-hari sebelumnya, sangat buruk”
Alice,           :”maaf, bisa kau ceritakan?”
Nadine,        :”Dari sejak kecil, dunia telah kejam kepadaku. Kau tahu rasanya dipukuli, dibenci, disiksa. Bahkan orangtuamu lebih mementingkan dunianya daripada dirimu. Kamu diabaikan, selalu sendiri-dimanfaatkan, dikucilkan. Tapi kau tak bisa melakukan apa-apa. Kamu terlalu lemah untuk itu. Kau tak pernah bersentuhan dengan kebaikan selama masa kecilmu, kau adalah topeng didepan teman-temanmu, menjadi bulan-bulanan. Kau bahkan harus terlihat pintar oleh teman-temanmu agar kau diakui, dihargai oleh mereka.
Ketika semua berakhir, kau tak punya pilihan. Bila hidupmu satu-satunya yang harus kau berikan untuk awal yang baru, bagaimana mungkin kau tidak memberikannya?
                                      ,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Alice pun pergi menemui Grey, namun saat diperjalanan ia bertemu Jacob.
Alice tidak tinggal diam dan segera mengajaknya berbicara empat mata.
Alice,           :”Jake, tunggu! Kenapa kau menghindariku. Kau selalu saja melakukan hal-hal kejam kepada makhluk lemah”
Jacob,         :”itu sesuatu yang harus kulakukan dan bertekan akan kulakukan, dan tidak ada apapun yang mengalihkan perhatianku”
Alice,           :”Tidak bisakah kau berteman denganku?
Jacob,         :”Ya, aku akan menjadi pelayat utama dikuburanmu sebagai tanda pertemanan
Alice,           :” Kita akan menjadi teman lagi di American Collage School! Kau harus menerima awal yang baru disana”
Jacob,         :”Kau tidak usah memberitahuku. Aku sudah belajar lebih banyak mengenai dunia”
Alice,           :”Jacob, kau sudah dikendalikan oleh perangai jahatmu”
Jacob,         :”hentikan semua harapan dan ocehanmu, telan sesendok gula, dan kau bisa bersikap manis dan menjadi teman yang lebih menyenangkan. Pergilah!” (berkata dengan kasar)
Alice,           :”Hei Jacob. Hati-hatilah! Dan jangan mengambil resiko”(menasehati Jacob kemudian pergi)
                                                ....................

          Alice kemudian menemui Grey, dan setelah sampai ia berbicara akrab dengannya.
Gray,           :”Alice, ternyata Ayahku meninggal karena serangan jantung mendadak dan bukan karena gunting rumput Nadine”
Alice,           :”Oh, sabar ya. Grey, Nadine dan Jacob sudah mengalami hal yang mengerikan mereka tidak bisa disalahkan” (Alice meyakinkan)
Gray,           :”Ya, kita harus mempersiapkan awal yang baru Di American Musical Collage School, mereka lebih memilih mem-bully daripada di-bully  disana. Mereka sangat pintar—Nadine dan Jacob”
Alice,           :” Berikan mereka kesempatan yang adil. Kita baru mulai, dan tidak bisa berhenti di awal”
Grey,           :”Tapi kau tak bisa berharap ia berhasil melewatinya sebagai malaikat putih bersih. Beri ia waktu”

Alice, satu-satunya orang yang cukup berani untuk menawarinya awal yang baru. Dan ia mampu, tak sia-sia kerja kerasnya. Nadine dan Jacob, mereka sudah mempelajari pengendalian dan kesenangan diri, dan ia sudah mengenal aturan, ia sudah bisa bersikap terhormat, tenang, dan memiliki toleransi filosofis. Ia tak lagi hidup dalam lingkungan penuh bahaya.
                                      ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Alice, Nadine, Jacob dan Grey pun masuk American Musical Collage School yang mereka idam-idamkan. Hanya dengan kebersamaan.

Sabtu, 30 November 2013

My Best Friends


Tentang Kita, Sahabat

Waktu itu, kita masih sangat kecil, ya sangat kecil. Setiap hari itu menyenangkan. Bercanda dan bergembira bersama teman-teman dan sahabat. Benda apapun bisa menjadi mainan. Terik mataharipun bagaikan sinar-sinar lampu pesta, kita menari gembira dibawahnya. Kita sama sekali tak mengerti apa-apa. Yang kita tahu; Dunia itu indah.
,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Saat  itu, ketika bel sekolah berbunyi, aku berlalri gembira memasuki kelas. Tak sabar rasanya ingin bertemu dengan sahabat dan teman-temanku. Langkahku tak berhenti, aku terus berlari hingga kulihat wajah-wajah sahabatku. Di pojok ruangan sana terlihat Inee sedang menungguku. Ya, dialah sahabatku, sahabat sejatiku. Kulambaikan tanganku, seraya berkata
“Inee..” teriakku.
“Din, cepat duduk disini. Pelajaran sudah dimulai” jawabnya cemas.
“Iya.. iya.. eh, hari ini kita mau ngapain ya? Tanyaku.
“mmh.. seperti biasa, kita hangout bareng Regen dan Santo” jawabnya.
“Okedeh, bilang sana sama mereka!” perintahku.
            Inee pun langsung berbalik badan kearah Regen dan Santo, yang duduk tepat dibelakang kami. Kulihat, mereka sedang bercanda ria sehingga ruangan menjadi sangat bising.
“Woy, nanti pulang sekolah ketempat biasa ya!” teriak Inee, karena ruangan terlalu bising.
“Iya, iya.. tapi bawain tekwan ya!” jawab mereka kompak.
Iya, iya.. nanti dibeliin deh!” jawabku.
            Kami pun kembali serius kepelajaran karena guru mulai marah karena kelas kami terlalu bising. Teet.. bel istirahat berbunyi, semua anak-anak berhamburan keluar termasuk kami. Aku dan Inee segera bergabung dengan teman-teman yang lain. Kami bermain permainan favorit kami, yaitu buaya-buaya’an. Walaupun melelahkan kami harus berlari, berlari dan berlari. Tak peduli terik matahari yang menyengat dan peluh yang membasahi tubuh kami. Yang ada hanyalah tawa dan tawa. Aku pegang erat tubuh teman-temanku, agar tidak mati dalam perminan. Ini adalah hari yang indah, sangat indah. Tak akan pernah terlupakan olehku, hangat pelukan temanku selalu kurasakan. Tawaku dan teman-temanku masih bisa kudengar dan aroma siang hari yang terik itu masih tercium tajam dihidungku.
           
            Teet..  bel sekolah berbunyi, semua anak berlarian keluar. Sebuah ringtone yang ditunggu-tunggu anak-anak. Beberapa temanku ada yang pulang duluan karena sudah dijemput. Ada juga yang masih bermain-main. Dan aku, tentu saja HangOut dengan sahabatku.
“Nah, ini dia mereka baru datang” kataku.
“Sorry nih, kita telat. Tadi habis jajan dulu” jawab Santo.
“Jajan, jajan aja terus!” bantah Inee kesal.
“Laper brooh!” elak regen.
“Makan terus tapi badan tetep kurus-kurus aja nih” ledekku.
            Tawa pun pecah, kami bercanda gembira bersama. Kami bermain dan bermain. Tidak ada yang kami omongkan. Karena memang kami tidak mengerti apa-apa. Tapi, tawa itu terhenti, suasana menjadi hening. Saat aku memulai percakapan.
“Guys, lusa aku pindah ke Lampung” ucapku santai.
“Wah, enak dong din. Disanakan kota besar”. Tambah Santo ikut bahagia.
“Iya sih, tapi kenapa?” taya Regen penasaran.
“Gak tau, katanya papa aku dipindahin kesana” jawabku santai.
“Jauh gak? Nanti kamu bisa sering main kan kesini?” tanya Inee.
“Jauh tau ne, kata mama aku gitu!” tambah Regen.
“Aku gak ngerti ah, aku kan masih kecil!” jawabku acuh.
“Tapi kita gak bisa ketemu lagi dong din” ucap Inee, sambil menangis.
“Jadi, besok kamu gak sekolah!” tambah Regen.
“Berarti, ini hari terakhir kita bertemu!” ucap Santo lirih.
“udahlah, sekarang buat setiap detik berharga” jawabku.
            Tangispun tak terhindari lagi. Aku tak bisa mendengar apa-apa lagi. Yang kudengar hanyalah tangisan. Yang kulihat adalah duka. Yang kurasakan hanyalah lara.
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
            Esok harinya, aku memang tidak sekolah.tapi aku datang ke sekolah untuk bepamitan. Kulihat mereka, kulihat teman-temanku. Saat aku pergi, Tiada percakapan antara kami, kami hanya saling berpandangan, walau mereka tepat didepanku. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan. Sedih karena harus berpisah dengan sahabatku, atau bahagia karena bisa menuntut ilmu ditempat yang lebih baik.
            Sekarang, tak terasa 5 tahun sudah berlalu. Berlalu tanpa ada kalian, tanpa ada komunikasi. Dan sekarang aku sudah kelas 3 SMP. Saat aku sudah menemukan kembali kontak bbm Inee. Aku bahagia sekali karena telah menemukan sahabatku yang dulunya hilang. Karena memang kami benar-benar lost kontak selama 5 tahun lebih. Kudengar Inee sekarang bersekolah di SMP favorit di Belitung. Tapi tak hanya kabar baik yang kudengar, ternyata sahabatku Santo putus sekolah, sudah 2 tahun ia tidak duduk di bangku sekolah, hidupnya sudah tidak terurus lagi, dia menjadi nakal, ia suka mengisap lem. Sedangkan Regen, tak ada kabarnya lagi.
,,,,,,,,,,,,,,,,,
            Musim semi telah berganti musim gugur. Bunga layu sebelum mekar. Seperti persahabatan kita, tawa telah berubah tangis. Sahabat, nasib kita memang berbeda. Jarak mungkin memisahkan kita.  Sahabat tak mesti harus mendampingi kita dari awal, tetapi yang akan mendampingi kita sampai akhir, sahabat. 





mmh.. jadi inget lirik lagu, "perpisahan bukanlah luka, tapi menyisakan luka"