Tentang Kita, Sahabat
Waktu itu, kita masih sangat kecil, ya sangat kecil. Setiap
hari itu menyenangkan. Bercanda dan bergembira bersama teman-teman dan sahabat.
Benda apapun bisa menjadi mainan. Terik mataharipun bagaikan sinar-sinar lampu
pesta, kita menari gembira dibawahnya. Kita sama sekali tak mengerti apa-apa.
Yang kita tahu; Dunia itu indah.
,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Saat itu, ketika bel
sekolah berbunyi, aku berlalri gembira memasuki kelas. Tak sabar rasanya ingin
bertemu dengan sahabat dan teman-temanku. Langkahku tak berhenti, aku terus
berlari hingga kulihat wajah-wajah sahabatku. Di pojok ruangan sana terlihat
Inee sedang menungguku. Ya, dialah sahabatku, sahabat sejatiku. Kulambaikan
tanganku, seraya berkata
“Inee..” teriakku.
“Din, cepat duduk disini. Pelajaran sudah dimulai” jawabnya
cemas.
“Iya.. iya.. eh, hari ini kita mau ngapain ya? Tanyaku.
“mmh.. seperti biasa, kita hangout bareng Regen dan Santo”
jawabnya.
“Okedeh, bilang sana sama mereka!” perintahku.
Inee pun
langsung berbalik badan kearah Regen dan Santo, yang duduk tepat dibelakang
kami. Kulihat, mereka sedang bercanda ria sehingga ruangan menjadi sangat
bising.
“Woy, nanti pulang sekolah ketempat biasa ya!” teriak Inee,
karena ruangan terlalu bising.
“Iya, iya.. tapi bawain tekwan ya!” jawab mereka kompak.
Iya, iya.. nanti dibeliin deh!” jawabku.
Kami pun
kembali serius kepelajaran karena guru mulai marah karena kelas kami terlalu
bising. Teet.. bel istirahat berbunyi, semua anak-anak berhamburan keluar
termasuk kami. Aku dan Inee segera bergabung dengan teman-teman yang lain. Kami
bermain permainan favorit kami, yaitu buaya-buaya’an. Walaupun melelahkan kami
harus berlari, berlari dan berlari. Tak peduli terik matahari yang menyengat
dan peluh yang membasahi tubuh kami. Yang ada hanyalah tawa dan tawa. Aku pegang
erat tubuh teman-temanku, agar tidak mati dalam perminan. Ini adalah hari yang
indah, sangat indah. Tak akan pernah terlupakan olehku, hangat pelukan temanku
selalu kurasakan. Tawaku dan teman-temanku masih bisa kudengar dan aroma siang
hari yang terik itu masih tercium tajam dihidungku.
Teet.. bel sekolah berbunyi, semua anak berlarian
keluar. Sebuah ringtone yang ditunggu-tunggu anak-anak. Beberapa temanku ada
yang pulang duluan karena sudah dijemput. Ada juga yang masih bermain-main. Dan
aku, tentu saja HangOut dengan sahabatku.
“Nah, ini dia mereka baru datang” kataku.
“Sorry nih, kita telat. Tadi habis jajan dulu” jawab Santo.
“Jajan, jajan aja terus!” bantah Inee kesal.
“Laper brooh!” elak regen.
“Makan terus tapi badan tetep kurus-kurus aja nih” ledekku.
Tawa pun
pecah, kami bercanda gembira bersama. Kami bermain dan bermain. Tidak ada yang
kami omongkan. Karena memang kami tidak mengerti apa-apa. Tapi, tawa itu
terhenti, suasana menjadi hening. Saat aku memulai percakapan.
“Guys, lusa aku pindah ke Lampung” ucapku santai.
“Wah, enak dong din. Disanakan kota besar”. Tambah Santo ikut
bahagia.
“Iya sih, tapi kenapa?” taya Regen penasaran.
“Gak tau, katanya papa aku dipindahin kesana” jawabku santai.
“Jauh gak? Nanti kamu bisa sering main kan kesini?” tanya
Inee.
“Jauh tau ne, kata mama aku gitu!” tambah Regen.
“Aku gak ngerti ah, aku kan masih kecil!” jawabku acuh.
“Tapi kita gak bisa ketemu lagi dong din” ucap Inee, sambil
menangis.
“Jadi, besok kamu gak sekolah!” tambah Regen.
“Berarti, ini hari terakhir kita bertemu!” ucap Santo lirih.
“udahlah, sekarang buat setiap detik berharga” jawabku.
Tangispun
tak terhindari lagi. Aku tak bisa mendengar apa-apa lagi. Yang kudengar
hanyalah tangisan. Yang kulihat adalah duka. Yang kurasakan hanyalah lara.
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Esok
harinya, aku memang tidak sekolah.tapi aku datang ke sekolah untuk bepamitan.
Kulihat mereka, kulihat teman-temanku. Saat aku pergi, Tiada percakapan antara
kami, kami hanya saling berpandangan, walau mereka tepat didepanku. Aku tidak
tahu apa yang aku rasakan. Sedih karena harus berpisah dengan sahabatku, atau
bahagia karena bisa menuntut ilmu ditempat yang lebih baik.
Sekarang,
tak terasa 5 tahun sudah berlalu. Berlalu tanpa ada kalian, tanpa ada
komunikasi. Dan sekarang aku sudah kelas 3 SMP. Saat aku sudah menemukan
kembali kontak bbm Inee. Aku bahagia sekali karena telah menemukan sahabatku
yang dulunya hilang. Karena memang kami benar-benar lost kontak selama 5 tahun
lebih. Kudengar Inee sekarang bersekolah di SMP favorit di Belitung. Tapi tak
hanya kabar baik yang kudengar, ternyata sahabatku Santo putus sekolah, sudah 2
tahun ia tidak duduk di bangku sekolah, hidupnya sudah tidak terurus lagi, dia
menjadi nakal, ia suka mengisap lem. Sedangkan Regen, tak ada kabarnya lagi.
,,,,,,,,,,,,,,,,,
Musim semi telah berganti musim
gugur. Bunga layu sebelum mekar. Seperti persahabatan kita, tawa telah berubah
tangis. Sahabat, nasib kita memang berbeda. Jarak mungkin memisahkan kita. Sahabat tak mesti harus mendampingi kita dari
awal, tetapi yang akan mendampingi kita sampai akhir, sahabat.

mmh.. jadi inget lirik lagu, "perpisahan bukanlah luka, tapi menyisakan luka"

true friendship story (y)
BalasHapussedih, haru, mengingat tentang sahabat. Bikin nangis bacanya:D
heheh.. ceritanya bagus din. menyentuh bngt
BalasHapusflashback ya!! Good Job
BalasHapus